Blue Snowflake

Kamis, 16 Oktober 2014

Patah Hati

Patah hati. Itulah yang sedang dirasakan oleh Kania. Dadanya terasa sangat sakit dan sesak. Hatinya tak mampu menahan rasa sakit yang terasa. Begitu perih. Air matanya tak berhenti mengalir dari matanya hingga membuat matanya membengkak. Ia tak sanggup untuk menghadapi kenyataan. Kenyataan yang sangat pahit. Kenyataan itu adalah, orang yang ia cintai kini tak mencintainya lagi. Orang tersebut kini telah melangkah menjauh. Meninggalkannya sendiri.

Kania mengangkat wajahnya. Ia mengambil sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja di sebelah kasurnya. Di foto tersebut tergambar dirinya dan seseorang yang amat ia cintai yang kini tak dapat ia gapai kembali. Air mata Kania kembali tumpah. Semua kenangan manis kembali berputar di kepalanya. Berharap semua hal tersebut dapat terulang kembali.

“Nia, makan dulu yuk.” Terdapat suara dari balik pintu kamar Kania. Karena tidak mendapat balasan dari Kania orang yang berada di balik pintu itu membuka pintu. Orang tersebut adalah Tara, sahabat Kania yang menumpang tinggal di rumah Kania.
“Nia, kamu jangan nangis terus dong, kasian mata kamu sampe bengkak gitu.” Ujar Tara sembari menghapus air mata yang mengalir di wajah Kania. “yuk kita makan dulu”
“aku gak mau makan, Ra” Nia menolak ajakan Tara dan kembali memeluk lututnya.
“Nia, gak boleh gitu…” Tara mengelus kepala Kania dengan lembut. “kalo gak makan nanti kamu sakit, jangan nyiksa diri kamu sendiri..” lanjutnya. Kemudian ia memeluk badan Kania yang jauh lebih kecil darinya.
“sakit…” terdengar sebuah isakan yang keluar dari mulut Kania. “kenapa rasanya begitu sakit Tar, aku nggak kuat..” lanjutnya. Kania membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Tara.
“shh… nantinya juga rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya..” bisik Tara lembut. “udah, kamu jangan sedih lagi, semakin kamu bersedih, akan semakin terasa sakit” Tara mencoba untuk membuat sahabatnya tenang.
“susah tar… susah…” ujar kania masih terisak.
“udahlah Nia, cowok kayak Ricky dilupain aja, masih banyak someone else yang jauh lebih baik dari dia, yakin deh!” Tara kembali meyakinkan Kania. “ayo dong, senyum! Mana Kania yang aku kenal selalu tersenyum itu?”
Kania mengangkat wajahnya. Ia sangat terkesan dengan usaha sahabatnya itu. Tanpa disadari Kania tersenyum tipis. Ia sangat senang dengan kehadiran sahabatnya itu.
“nah gitu dong! Itu baru Kania yang ku kenal!” Tara ikut tersenyum dan memeluk Kania dengan erat.
“makasih ya Tar, kamu selalu ada buat aku” Kania balas memeluk.
“sama-sama Nia, itu kan gunanya sahabat” Tara memeluk Kania dengan erat kemudian melepaskan pelukkannya. “yuk makan sekarang”
“yuk” ujar kania tersenyum.

Rinduku

Hari itu dimana Prisya yang duduk di bangku kuliah di salah satu Universitas di daerahnya, merasa bimbang pulang atau tidak, masalahnya hari itu aku akan ada Ujian Akhir Semester yang bertepatan malamnya adalah malam pergantian tahun dari 2013 ke 2014. Prisya masih merasa dia tidak bisa pulang karena masalahnya ujian belum dimulai dan hari itu ada dua mata kuliah yang akan diujiankan dan mata kuliah hari itu adalah mata kuliah bersyarat dimana kalau dia sampai tidak mengikuti mata kuliah tersebut maka dia tidak bisa kontrak mata kuliah yang selanjutnya. Karena mata kuliah yang selanjutnya bisa dikontrak apabila mata kuliah yang sebelumnya lulus.

Beberapa menit kemudian tiba-tiba beberapa dosen terlihat membawa amplop yang berwarna coklat, yang bertanda bahwa ujian akan segera dimulai,
“cepat masuk ujian akan segera dimulai, cepat cepat atur posisi ujian…” Kata dosen yang kebetulan akan mengawas di kelas Prisya.
Setelah semua mahasiswa yang sekelas dengan Prisya sudah siap ujian, dosen pun membagikan kertas ujian yang akan diujiankan…
Dosen mengatakan bahwa ujian ini waktunya 120 menit dan sebelum memulai ujian keting ditunjuk untuk memimpin doa sebelum memulai ujian…

Ujian akhirnya dimulai… penjagaanya ketak sehingga Prisya dan kawan-kawannya tidak bisa saling tukar jawaban, “supaya wisudanya barengan nggak ada yang wisuda lebih dulu ataupun sendiri-sendiri” prinsip orang-orang yang ada dalam kelas Prisya…
Hehehehe, keren yah itu baru namanya teman, Masuk bareng-bareng yah keluar pun yah barengan lah, masa iya sendiri-sendiri… Nggak kompak namanya, heheheheh,

Tiba-tiba dosen mengatakan “waktu tinggal 20 menit lagi”,
Wah Prisya yang tadinya melamuan tiba-tiba menjadi repot sendiri karena ujiannya masih 1 nomor lagi essay yang belum selesai,
“Sist, nomor 3 essay apa jawabannya donk?” bisiknya pada salah satu sahabat dekatnya,
“Aku hanya ngarang jawabannya Sist, udah karang aja yang pening ada yang nyangkut walau dikit deengan pertanyaanya” kata sahabat Prisya..
Prisya pun melanjutkan mengisi jawabanya dengan mengingat penjelasan dosen pengajar tentang materi tersebut

“Waktunya sudah selesai, silahkan keluar lembar jawaban sama soal diletakkan di atas tempat duduk kalian saja, ayo cepat keluar” kata dosen jaga.
Semua mahasiswa keluar kelas dengan meninggalkan lembar jawaban sama soal di atas tempat duduk mereka masing-masing,
Setelah dosen jaga keluar, dosen tersebut mengatakan bahwa ujian yang kedua akan dimulai 15 menit lagi…
Prisya dan kawan-kawanya kaget dan kelas berubah menjadi ribut karena mendengar bahwa ujian akan dimulai dalam waktu 15 menit lagi…
“wah, nggak salah tuh, ujian baru kelar langsung lanjut lagi”
“udah belajar ngak lo?”
“aku haus nee, siapa yang punya air?”
Pokonya dalam kelas udah ribut banget…

Tiba-tiba handphone Prisya bergetar karena dia takut nantinya kalau ujian handphonenya bunyi,
Prisya membuka SMS yang masuk. Ternyata SMS yang masuk SMS dari keponakannya (anak dari sepupunya).
(Prisya, lo ngak balik? Disini ramai lo)
Prisya yang waktu itu ingin pulang langsung merespon SMS yang dikirim oleh keponakannya tersebut,
(pengen banget pulang, tapi masalahnya udah jam segini angkot udah ngak ada, gimana donk?)
(kalau kak mau pulang naik aja barengan sama papaku, papaku juga kebetulan mau) kata Un
(oh iya beneran?) prisya tampak semangat. Kebetulan ayahnya Un adalah kak sepupu Prisya…
Prisya langsung menanyakan pada sepupunya (anak dari saudaranya ibunya Prisya) kalau dia beneran pulang. Ternyata setelah dikonfirmasi ternyata kakak sepupunya beneran akan pulang,
Prisya tambah semangat sore itu,
“Sist, kenapa lo, senyam-senyum sendiri” kata sahabatnya Prisya..
Sahabat-sahabatnya Prisya memang sangat care banget karena di dalam kelas tersebut ngak ada yang cowok… masa iya ada cowok di jurusan khususnya cewek, hehehehe,
“nggak kenapa-kenapa kok”
“Ah masa sih, ngak ada apa-apa tapi kenapa senyam-senyum sendiri,”
Sahabat Prisya yang lain bilang “pasti dia diajakin cowok malam tahun baruan bareng, hehehehehe,”
“Cowok siapa yang mau ajakin Prisya jalan, dia kan ngak punya pacar”
“apaan sih kalian, bukan cowok kali” Prisya membantah sahabanya
“Hehehehe, Prisya itu kan ngak punya pacar, anak kecil belum bisa pacaran, anak kecil tu kalau malam tahun baruan di kamar aja, pulang ngampus mandi, sholat, belajar trus tidur, nggak boleh anak kecil keluar malam sampai larut”
“hahahahaha” sahabat-sahabatnya menertawakan Prisya
Tiba-tiba kelas sebelah mengatakan kalau ujian akan segera dimulai.
Kelas yang tadinya ribut kini menjadi sunyi seperti tak berpenghuni,
Prisya dan sahabat-sahabatnya kini diam tanpa ada seorang pun yang menertawakan Prisya, yang ada hanya senyuman yang terlihat dari bibir mereka

“sudah siap ujian?” tanya dosen yang mengawas di kelas Prisya saat itu
“siap bu” kata seluruh mahasiswa yang ada di kelas tersebut
Lembar ujian dibagikan dosen dibantu oleh Ketua tingkat..
“waktunya 1 jam dari sekarang ya” kata dosen lagi
Prisya terihat semangat mengerjakan soal-soalnya, setelah waktu berjalan sudah 45 menit, Prisya telah lebih dulu kelar ujiannya.. tapi Prisya tidak langsung mengantar lembar jawabannya karena teman-temannya belum ada yang selesai

Waktu ujian pun selesai… semua mahasiswa keluar kelas dengan meletakkan lembar ujian di atas tempat duduk mereka, Prisya yang sudah selesai langsung beranjak keluar kelas karena terburu-buru mau pulang,
Prisya tak lupa pamitan pada sahabatnya,
“Sist, aku balik dulu yah, SELAMAT TAHUN BARU,”
Prisya langsung beranjak pulang kosnya, sesampai di kosnya Prisya mendapat telfon dari sepupunya kalau sebentar lagi akan berangkat,
Prisya sudah langsung mengganti seragamnya dengan pakaian biasa, tidak lama kemudian Prisya dijemput oleh sepupunya dengan mobil kemudian mereka pun pergi

Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih tersebut, akhirnya Prisya sampai di rumahnya, sesampai di rumah Prisya menemui ibu dan kakak iparnya sedang membuat Kue yang akan dibawa ke pantai besoknya, karena bertepatan dengan acara ritual yang menjadi adat dari daerah Prisya yang biasa dilaksanakan pada hari Rabu minggu ketiga di bulan Syafar dengan tahun baru 2014. Sebenarnya Prisya pulang bukan karena ingin rayain tahun baru di kampung halaman akan tetapi karena ingin melihat keluarganya terutama kedua orangtuanya. Prisya berkata bahwa bila libur kali ini tidak biasa pulang maka dia sudah tidak ada waktu lagi untuk menjenguk kedua orangtuanya. Karena dengan beberapa alasan yang ada. Salah satu alasannya yaitu minggu ini dia ada jadwal Ujian Akhir Semester yang kemudian akan dilanjutkan lagi denga Ujian OSCA yang menjadi syarat mahasiswa dapat mengikuti Praktek Klinik, setelah OSCA kemudian langsung turun dinas, jadi prisya berfikir bahwa ini adalah salah satu kesempatan untuk pulang, dan karena udah hampir 3 bulan lebih belum pulang dan melihat wajah orangtua.

Malam itu Prisya langsung mengatakan bahwa dia akan pulang besok sore karena dia harus belajar berhubung pada tanggal 2 akan ada ujian lagi. Dia bilang bahwa dia akan pulang bersama dengan temannya besok,
Tiba-tiba SMS masuk ternyata itu adalah SMS dari keponakannya
“kak, sudah sampai di rumah?”
“udah, kenapa”
“kak kita jalan yuk, mau nggak?”
“okok, tapi jemput kak nanti jam 10an yah, soalnya masih cape nee,”
“ok kakakku yang cantik” kata keponakannya
Prisya yang kebetulan belum makan langsung nanya kalau ada makanan “mam, ada makanan?”
“ada, liat aja di lemari. Ada ikan sama sayur juga tuh” kata mama prisya
Prisya yang kebetulan sudah lapar banget langsung ngambil makanan dan makan. Setelah makan tibaa-tiba keponakannya mengiriminya SMS lagi.
“kak, udah jam 10 tu, gimana udah mau jalan?”
“ok ok, kakak ganti baju dulu ya, soalnya kayaknya dingin banget udaranya, atau gini aja kau datang ke rumah aja, kakak kan ganti baju doank ngak lama kali ganti baju doank,”
“ok ok, aku udah mau kesana nee”

Setelah selesai ganti baju tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah. Hmmmp ternyata yang ngetuk pintu rumanhya adalah keponakannya sendiri.
Prisya langsung pamaitan pada ibunya
“mam, aku jalan dulu ya,”
“kau mau jalan sama siapa Pris?”
“ini nih sama Un,”
“oh, hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebutan banyak kendaraan apalagi pergantian tahun baru kayak gini, pulangnya jangan lama ya,”
“Sip mam, habis pelepasan aku pulang kok mam”
Dia dan keponakannya langsung beranjak dari rumah…

“kak, ke rumah bentar ya, soalnya mau ngantarin rantangan teman. Tadi aku dikasih Mie soto sama mamnya temanku”
“ok lah,”
Setelah tiba di rumah keponakanya tersebut Prisya melihat adik kecil dari keponakannya sedang duduk bermain bersama ayahnya,
“halo anak kecil” sapa Prisya pada keponakan kecilnya tersebut, keponakannya itu namanya Syafira tapi Prisya biasa panggil dia dengan sebutan anak kecil karena Syafira masih kecil,
“kenapa anak kecil sudah jam segini belum tidur”
“biasa mau nungguin malam pergantian tahun lah, masa hanya kak Pris yang mau liat malam pergantian tahun,” kata mamanya (istri kak sepupu dari Prisya)
“anak kecil itu seharusnya udah tidur jam segini, bukan anaknya yang mau liat malam pergantian tahun jangan-jangan mamanya sama ayah yang mau liat, mana tau anak kecil tentang malam pergantian tahun, Xixixixixix” kata Prisya
“hahahhaha, kak Pris tau aja,”

Tak lama kemudian kami pun beranjak dari rumah mengantar rantangan di rumah temannya keponakannya. Setelah selesai mengaantar rantangan tersebut, kami langsung beranjak pergi ke pusat acara dimana saat itu ada acara dipusatkan pada satu tempat yaitu di lapangan kecamatan…
Sesampai disana kami hanya duduk-duduk sambil nungguin pergantian tahun yang pada dasarnya banyak kembang api yang mengawali pergantian tahun tersebut, keren banget

Setelah pelepasan tahun tiba Prisya menucapkan permohonannya dalam hati tentang hal-hal yang ia ingin raih di tahun 2014 ini,
Setelah beberapa menit berlalu, prisya dan keponakannya langsung meninggalkan lapangan karena kalau menunggu acara selesai kayaknya sudah macet banget. Prisya dan keponakannya langsung beranjak dari tempat acara langsung pulang karena Prisya udah ngantuk banget.

Sesampai di rumah, Prisya langsung tidur karena matanya sudah ngak kuat lagi untuk dibuka. Prisya pun tertidur tanpa mencuci wajahnya dan kaki, jangankan cuci kaki, baju pun udah ngak diganti sama dia.
Prisya yang lagi tidur terbangun dengan sinar mentaari pagi,
“Pri bangun udah pagi tu. Katanya mau pergi mandi di pantai sebelum banyak yang mandi,” kata ibunya
“iya mam,”

Prisya bangun dan langsung mencuci wajahnya yang sedari tadi malam belum dia cuci, prisya ngajak kakak iparnya pergi mandi bareng tapi kaknya belum mau karena masih terlalu pagi. Padahal jam udah setengah 7 lo, tapi masih dingin air lautnya lo,
Dia langsung mengambil motor dan berangkat ke pantai bersama dengan sepupu perempuannya. Jarak dari rumah ke pantai sekitar 3 km sih, sesampai di pantai ternyata udah banyak yang lagi mandi lo,
Mandi Safar itu adalah salah satu ritual di daerah Prisya, Mandi Safar itu bukan hanya mandi saja akan tapi mandinya itu dipertemuan antara air tawar sama air laut dan mandinya pun ada doanya,

Setelah selesai mandi Prisya dan sepupunyaa tersebut langsung pulang ke rumah mau ganti baju kemudian pulang lagi ke pantai soalnya acaranya belum dimulai,
“Pris lo mau balik lagi?” kata sepupunya pris
“iya, tapi bentar soalnya mau ganti baju dulu lah,”
“ya iyalah ganti baju masa iya lo ngak ganti baju, heheheh”
“hahahahaha”

Setelah ganti baju prisya langsung pergi lagi, tapi kali ini dia pergi sama kak iparnya dan anak kaknya,
Sampai di pantai dia langsung ke tenda yang sengaja dibuat untuk istrahat, di tenda tersebut ternyata banyak banget orangnya, tapi tetap dia masuk dan duduk di tenda tersebut. Masalahnya orang yang ada di tenda semuanya tante, sepupu, sama tetangga-teangga doank.

Sejam udah berlalu, prisya udah merasa lapar dan dia pun langsung pergi makan, kebetulan udah lama ngak makan bubur Manado, jaddi pesan makan bubur Manado,
“Mba, pesan bubur Manado 1 ya,”
“iya-iya tunggu bentar ya”
“iya mba”
Ternyata yang makan di tempat itu ada tantenya Prisya, tantenya yang baru saja lihat dia langsung bilang
“makan aja nanti tante yang bayarin, kamu baru datang atau?”
“beneran ni tan?”
“iya makan aja, kamukan jarang pulang kesini jadi dibeliin”
“wah asyik nih”
“kamu sampai jam berapa?”
“aku sampai tadi malam sekitar jam stengah 9”
“pulangnya sama siapa kemari”
“sama kakak sepupu”
“oh, trus pulangnya kapan?”
“pulangnya sebentar tapi agak sorean gitu”

Beberapa saat pesanan udah sampai, dia langsung memakannya dengan menambahkan kecap sama sambal dikit, tiba-tiba dia melihat kakak keduanya.
“kak, liat mama ngak?”
“tadi ada tapi sekarang ngak liat”
Eh tiba-tiba mamanya datang dengan menanyakan kalau dia mau pulang kapan,
“Pris, kau pulangnya jam berapa?”
“aku pulannya sorean gitu”
“kau mau pulang sama siapa?”
“aku mau pulang sama teman, kenapa mam”
“kamu pulangnya sekarang aja sama kakak, kebetulan kakak mau pergi kesana ada urusan sekarang”
“aku maunya sorean pulang, soalnya panas banget mataharinya mam”

Tiba-tiba mamanya pergi ke tenda yang dimana ada keponakan sama kakak iparnya Pris. Setelah kembali mamanya marah entah apa yang membuat mamanya marah. Pris yang saat itu baru makan 2 sendok langsung kaget dengan suara mamanya yang marah-marah di tengaah orang banyak sambil marahin Pris yang sedang makan. Pris yang saat itu meraasa malu hanya bisa nangis tanpa melanjutkan makannya. Kemudian kakaknya yang berada di sebelah datang dan menanyakan kenapa.
“kenapa kau belum mau pulang”
“aku mau pulang tapi pulangnya sorean dikit soaalnya sekarang juga kan baru jam 10, masa iya aku pulang jam sepuluh matahari panas banget” kata pris
“kau banyak ngomong ya, pulang skarang ke rumah, mama laporin kau sama kak kalau kau tidak mau diantarin sama dia. Kau hanya mau pulang dengan orang lain.” Kata mamnya dengan suara keras
Tiba-tiba datang kakak keduanya
“ada apa ini, kenapa marah-marah”
“ini prisya tidak mau pulang dengan kamu, dia maunya pulang dengan orang lain” kata mamanya
“bukan gitu kak, akunya mau pulang dengan kakak tapi sebentar soalnya matahari panas banget” kata pris
“ah kau banyak-banyak bicara disitu” kata mamanya
Kemudian mamanya pergi meninggalkan prisya, kakaknya yang tidak terima adiknya dimarahi di banyak orang kesal dan berteriak
“HUUUUU,”

Pris yang merasa malu langsung beranjak meninggalkan kantin dan langsung menuju ke tenda, di tenda pris lansung nangis melihat kakaknya yang tiba-tiba muncul,
“jangan dengerin kaata mama, biarkan mama ngomong apa, kita pulangnya nanti sore aja”
Pris yang sensitif yang cepat menitikan air mata tersebut langsung lemas dan nangis sama sepupunya untuk diantarin pulang ke rumah,
“Mat, antarin aku pulang,” sambil jongkok dan nangis, Pris yang tidak bisa dikasihani, seperti itu langsung menangis,
“mat, antarin dia pulang,” kata kakaknya mat

Mat pun langsung mengatar pris pulang ke rumah, tanpa disadari ternyata kak kedua pris mengikuti mereka dari belakang, pris nangis terus selama di perjaalanan tanpa suara apa pun,
Sesampai di rumah pris langsung ganti bajunya dengan celana jeans, karena dia hanya pakai celana olahraga ke pantai tadi. Kakaknya memanggilnya
“Pris,”
“ya,”
“jangan dengarin kata-kata mama, mama memang gitu suka marah-marah”
Dia hanya biasa nangis, dia kecewa ternyata harapanya pulang tidak diinginkan,
“mereka selalu telfon kau kapan pulang, kenapa yang lain pulang kau tidak pulang, mengapa setelah aku pulang mereka membuat hatiku sakit,”
“aku ngak marah sama kalian aku hanya ngak nyangka saja kenapa setelah aku pulang kalian malah bikin aku seperti ini,”
Dia yang larut dalam kesedihannya kini memutuskan untuk pulang tanpa memikirkan hal-hal lain.
“pris, kau mau pulang skarang?”
“iya, kak”
“ok kita balik skarang. Udah biarin mereka, kakak juga belum mau pulang, kak mau semingguan di sini baru pulang”
Pris yang saat itu sangat terpukul tanpa berfikir panjang pamitan atau apalah pada kedua orangtuanya. Dia hanya memberitahu kak iparnya kalau dia udah mau brangkat pulang. Mereka kakak beradik langsung pulang tanpa pamitan, tanpa bawa uang satu sen pun… karena kakaknya yang tidak punya uang untuk beli bensin, maka kakaknya terpaksa pinjam uang sama tantenya.

Selama di perjalanan mamanya menelfon tapi pris tidak sempat angkat karena dia tidak ingin dimarahi mamanya lagi, selama di perjalanan dia nagis sampai matanya merah, sesampai di kosannya, kakaknya langsung pamitan pulang tapi kakaknya belum langsung pulang karena kecewa dengan sikap mamanya yang marah-marah ngak jelas pada pris.

Hari itu pris ngurung diri di dalam kamar nagis, meratapi nasibnya, dia nagis seharian penuh sampai matanya bengkak, dia langsung tertidur tanpa makan. Tiba-tiba dia terbangun pada jam setengah 1 pagi ternyata mamanya menelfon dia.

Sehari telah berlalu, mamanya sudah nggak pernah nelfon lagi samapai sekarang,
“mam kangen, aku ingin dengerin suara kalian, aku kagen omelan-omelan kalian, tapi aku sakit waktu kalian marahin aku di hadapan banyak orang, aku malu banget.”
“tapi aku yakin kau pasti menyesal udah marah-marahin aku,”

Salah Nomor

Di sebuah Group WhatsApp komunitas peng-hobby otomotif roda dua, terdapat salah satu anggota bernama Jack Daniel.

Meski namanya sama persis dengan salah satu brand minuman beralkohol, namun sejatinya ia lebih doyan minum minuman sejuta umat, es teh.

Jika kebanyakan para bikers berpenampilan ‘sangar’, tidak demikian dengan pemuda satu ini yang justru terlihat unyu, menggemaskan, dan berperawakan tambun. Pembawaannya pun santai, open minded, dan supel sehingga ia disenangi oleh teman teman satu komunitas.

“Ada yang punya contact person bikers Tasikmalaya ngga? Ada temen yang mau meluncur ke sana nih” suatu hari Daniel bertanya di group WhatsApp.
“Darwin punya nih, Om. Sebentar ya” ujarku singkat. Namun, seketika itu juga timbul rasa ingin menjahili dirinya.
Aku copy nomornya sendiri lalu mem-paste nya pada kolom WhatsApp.

“Ini Om, nomor anak bikers Tasikmalaya” ujarku sambil menahan tawa.
Di luar dugaan, bukannya memaki sumpah serapah malah berterima kasih.
“Makasih ya, Win. Namanya siapa nih?”
“Oh.. iya kelupaan, Bang. Namanya Antok. Doi standby 24 jam, siap meluncur sewaktu waktu dibutuhkan.”
“Oke… makasih ya, Win”
“Sama sama oms”

Cukup lama ia ‘ngeh-nya’, hampir 10 menit. Setelah itu, apa yang ditunggu-tunggu pun datang juga.

“Eh… kampret!! Itu kan nomer Gua?! Untung belum gua kasih ke orangnya. Set*n bener, Lu, Win?!!!”

Aku tertawa terbahak-bahak sejadi jadinya di depan layar ponsel. Untungnya pada saat saya tertawa, tidak ada orang yang melihat. Kemudian setelah itu, diikuti gelak tawa dari beberapa teman teman lain satu group.

Sungguh kejadian itu cukup menghibur kesuntukan saya selama beberapa hari belakangan.

Nikmatnya Sedekah

Hari itu tepatnya hari Rabu, seperti biasa aku bergegas menuju kampus dengan mengendarai sepeda motor. Karena hari sudah siang, aku memacu sepeda motorku dengan kencang karena jarak rumah ke kampus sekitar 28 km.
Nampak satu per satu pengendara berebut menjadi pemenang bagaikan pertandingan balap yang diadakan di arena. Terlihat saling angkuh antara pengendara satu dengan pengendara lainnya seperti tak ingin kalah begitu pula aku.

Tak lama kemudian aku pun sampai di kampus yang tak begitu besar, suasana masih sunyi hanya terlihat beberapa mahasiswa mulai memasuki ruang kelasnya. Waktu menunjukan pukul 07.55 dimana perkuliahan akan segera dimulai. Aku duduk di dalam ruang kelas sembari memainkan handphone kesayanganku menunggu perkuliahan dimulai.

“Tet… tet… tet..” suara bel yang terkesan seperti suara bel anak taman kanak-kanak terdengar nyaring di telingaku pertanda perkuliahan akan segera dimulai.

Seperti biasa sebelum perkuliahan dimulai, selalu ada sesi motivasi dari dosen. Hal itu merupakan bagian dari aturan di kampusku dengan durasi maksimal 15 menit.
“selamat pagi semuanya” sapa Pak Widi dosen mata kuliah Enterpreneur memulai perkuliahan hari ini.
“selamat pagi” sahut mahasiswa lain berbarengan. Mereka sangat bersemangat apabila mengikuti mata kuliah Entrepreneur yang diajarkan beliau, karena selain orangnya asik beliau juga selalu memberi masukan-masukan yang maknanya dalam.
“motivasi dari saya hari ini adalah tentang arti bersedekah. Semua tahu arti sedekah? ada yang rutin bersedekah di kelas ini?” Tanya beliau sebelum memulai motivasi.
“tahu, tapi nggak sering ngelakuinnya pak” jawab beberapa mahasiswa dengan jujur.

Beliau berdiri menulis sesuatu di whiteboard, hal ini membuat kami penasaran dan mencoba membaca apa yang beliau tulis. “mari bersedekah” dua kata yang beliau tulis di whiteboard mampu membuat kamu semakin tak mengerti dengan alur cerita motivasi pagi itu.
“baiklah. Perlu kalian ketahui untuk menjadi pengusaha yang sukses, kita harus mengikuti ajaran dari agama kita dengan benar apalagi semua yang ada di kelas ini mengaku beragama islam. Salah satu ajarannya adalah bersedekah. Pengusaha yang ingin kesuksesannya langgeng maka salah satu kuncinya adalah bersedekah. Karena apa? Allah swt telah memerintahkan kita melalui Al Quran salah satunya surat Al Ma’un dimana kita harus berbagi rejeki dengan anak yatim dan fakir miskin. Disini saya akan menceritakan pengalaman nyata betapa besarnya dampak dari kita bersedekah. Dulu waktu saya masih berada pada posisi di bawah dengan keadaan ekonomi yang cukup sulit, saya merelakan semua uang gaji bulan itu untuk bersedekah seraya berdoa semoga allah memberikan kemudahan rejeki dengan berlipat ganda. Satu dua minggu saya masih seperti biasa dan hidup tanpa uang gaji satu bulan, tapi di minggu ketiga tanpa sengaja ada orang menawari saya sebuah pekerjaan dengan nominal yang cukup tinggi waktu itu hampir berkisar 350 juta. Sejak saat itu saya rutin bersedekah dan alhamdulilah sampai saat ini saya tak pernah merasa kesulitan masalah ekonomi dan uang selalu datang menghampiri saya dengan jalan yang bervariasi. Jadi kesimpulannya dengan bersedekah, rejeki kita akan bertambah dan dilapangkan jalannya dan saya berharap mulai saat ini kalian bisa menyisihkan uang jajan atau uang hasil jualan untuk bersedekah di jalan yang benar bukan untuk hura-hura membeli kemaksiatan” paparnya kepada mahasiswa.

Salah satu mahasiswa mengajukan pertanyaan sebelum sesi motivasi ditutup. “Pak, sebaiknya bersedekah itu ke siapa? kalo ke pengamen jalanan termasuk sedekah bukan?”
“bersedekah pastinya yang utama ke orang yang membutuhkan. Kalo saya pribadi lebih memilih bukan ke pengamen karena mereka menjual suaranya untuk mendapatkan uang sedangkan kalo kita bersedekah ke seseorang bukannya kita tidak mendapatkan apa-apa dari mereka. Lebih baik saran saya kalo tidak ke pengemis ya… lebih baik ke panti asuhan atau ke pondok pesantren yang menggratiskan santrinya untuk menempuh pendidikan”
“lh… kenapa bisa begitu Pak? Jadi kalo kita ngasih ke pengamen bukan dihitung sedekah?” Tanya mahasiswa lain penuh rasa keingin tahuan.
“ya menurut saya mereka menjual suara dan kita membeli suara mereka, jadi ada yang diperjual belikan. Dan saya cenderung mengajak kalian bersedekah ke panti asuhan dan pondok pesantren yang saya maksudkan tadi karena uang yang kita berikan bisa bermanfaat untuknya. Pertama keduanya mendidik anak bangsa untuk meraih cita-citanya yang kelak mereka bisa berguna dalam membangun bangsa ini”
Mendengar penuturan yang panjang lebar, semua mahasiswa terdiam sejenak meresapi nasehat dan penjelasan dosen kesayangannya hari itu.

Hari berikutnya, aku dan beberapa temanku sebut saja Isna, Aulia dan Husnul mulai mengikuti nasehat pak dosen meski yang kami sedekahkan hanya sebagian kecil dari uang saku atau uang hasil berdagang.

Kami memulai kegiatan ini dengan rutin tiap minggunya baik ke pengemis maupun orang yang membutuhkan. Sungguh diluar dugaan, sejak kami rajin melakukan kegiatan bersedekah tersebut, nikmatnya mulai terasa di antaranya kami tidak pernah lagi merasa kesulitan dalam hal rejeki karena selalu saja ada jalan atau pemberian yang tak terduga dari orang di sekitar, selain itu bisnis kecil yang aku dan Isna jalankan mulai memberikan hasil dengan ramai serta selalu ada pembeli tanpa mengalami kerugian-kerugian bisnis seperti sebelum-sebelumnya sebelum mengenal arti sedekah yang sesungguhnya.
“petuah dosen kita benar adanya, hidup dengan cara agama yang benar dan dilakukan dengan hati yang ikhlas ternyata mampu mengubah hal-hal di luar logika seorang manusia terbukti dengan hal-hal indah yang tak terduga mengiringi perjalanan hidup kita” kataku membuka pembicaraan di tempat kami biasa nongkrong yakni di dekat ruko tak berpenghuni yang letaknya tak jauh dari kampus.
“setuju, dan itu semua terbukti pada diri kita saat ini. Bersedekah ternyata membuat hidup kita semakin nikmat dan lebih bahagia lahir maupun batin” Aulia ikut angkat bicara. Dia menatap ketiga wajah teman-temannya dengan penuh senyum kebahagiaan.

Isna bangkit dari tempatnya menyendiri. “iya, benar ternyata rahasia di balik kesuksesan beberapa pebisnis yang langgeng mereka selalu rutin menyedekahkan keuntungannya bukan memakan semuanya”
“nah kalo begitu, kita harus berkomitmen untuk menyedekahkan sebagian harta yang kita miliki karena sebagian harta yang kita punya ada hak orang miskin betul?”
“betu… betul… betul…” serempak kami menjawab pertanyaan Husnul seraya tertawa lepas. Semenjak saat itu pun kami berkomitmen untuk menjalankan aktivitas ibadah sebagaimana perintah Allah SWT.

THE END

Sahabat

Hallo… Namaku Riana Valda. Biasa dipanggil Valda. Aku baru saja lulus SD, dan aku akan melanjutkan sekolah di SMPN 34 Bandung. Mempunyai teman memang menyenangkan. Apalagi jika kita memiliki banyak sekali teman. Huh, pasti sangat sangat sangaaaat menyenangkan. Tapi, itu semua tidak dengan Valda. Kenapa? Karena disaat pertama masuk SMP, dan di sekian banyak orang yang Valda kenal, tidak ada satu orang pun yang Valda kenal di kelas barunya itu.
Tentu saja itu sangat membosankan bagi Valda yang tidak memiliki teman di kelasnya. “huh.. sangat membosankan” gerutu Valda dalam hatinya.

Karena Valda bosan, akhirnya Valda memutuskan untuk berkenalan dengan teman sebangkunya. Iya, Valda memang sangat malu dengan orang yang belum dikenalnya. Apalagi jika ia harus membuka mulut pertama untuk berkenalan. Tapi, karena Valda sangat bosan, hilanglah semua rasa malunya.

“hey, boleh berkenalan? Namaku Valda. Siapa namamu?” Tanya Valda, kepada teman sebangkunya. Valda memang benar-benar tidak pernah bisa untuk berkenalan ya sepertinya, masa mau berkenalan saja nanya dulu boleh kenalan apa tidak huh dasar Valda valda. Untung saja teman sebangkunya menjawabnya dengan santai “hey, oh tentu saja boleh. Namaku Lina” sambil bersalaman ala berkenalan. Akhirnya Valda tidak merasa bosan lagi, karena Lina, teman barunya terus mengajak Valda untuk mengobrol.

Teng nong teng nong… itulah bunyi bel sekolah Valda. Bel tersebut menunjukan waktu untuk pulang sekolah. Sesaat bel pulang sekolah berbunyi, valda langsung bergegas pulang menaiki angkutan umum, atau sering juga disebut angkot. Karena ini pertama kalinya masuk smp, otomatis pulang naik angkot sendirian pun, juga pertama kalinya. Sehari sebelum sekolah, papahnya Valda mengajarkannya untuk naik angkot. Papahnya valda bukan ngajarin nyupir angkot ya, tapi ngajarin naik jurusan apa saja yang harus dilalui Valda dari rumah sampai sekolah. Walaupun ini hari pertamanya Valda ke sekolah jauh dari rumahnya, dan pulang menaiki angkutan umum sendirian, Valda berhasil melakukannya untuk hari pertama. Kalau hari pertama bisa dilalui, berarti hari-hari selanjutnya juga bisa dilaluinya dengan sangat mudah.

Sesampainya di rumah, Valda langsung memasuki kamarnya untuk berganti baju dan langsung membaca novel. Iya, itu salah satu hobi Valda yaitu membaca novel. Bisa dibilang hobinya itu bukan baca novel, tapi hobi meminjem novel. Soalnya di sekian banyak novel yang Valda baca, tidak ada satu pun novel yang Valda miliki, ada-ada saja ya Valda.

Keesokan harinya, Valda melakukan kegiatan seperti kemarin. Tapi, untuk hari ini Valda jadi memiliki banyak teman loh. Karena Lina memilikii banyak teman, jadi Valda bisa bergabung dengan teman-temannya Lina.
Sudah beberapa bulan Valda melakukan aktivitas yang sama. Dan sampai pada akhirnya, karena Lina dan Valda semakin hari semakin dekat, mereka pun jadi bersahabatan. Lina juga punya sahabat di kelas lain, yaitu Sari dan Hana. Karena Lina dekat dengan Valda, akhirnya Valda juga bersahabatan dengan Sari dan Hana.

Di saat mereka sedang istirahat, Lina juga pernah bercerita ke Valda seperti ini “Eh Valda. Tau gak? Lina lagi ngeceng seseorang loh” kata Lina yang sedang duduk bersama Valda didepan kelasnya. “Hah? Lina punya kecengan? Sejak kapan Lina ngeceng cowok? Dikira, Lina ngecengnya sama cewek lagi. Hahahaha” jawab Valda sambil tertawa terbahak-bahak. “Ah kamu bercanda aja val, jangan gitu dong. Aku juga masih normal kali.” Jawab Lina kesal. “Hahaha iya maaf maaf. Yang mana sih cowok kecengan Lina?” jawab Valda yang masih cekikikan melihat sahabatnya yang kesal itu. “itu tuh, yang lagi duduk” jawab Lina sambil menunjuk cowok kecengannya. “Oh yang itu, biasa aja sih” jawab Valda sambil memakan permen yang hampir saja mau jatuh dari mulutnya. “Aduh Valda Valda. Semua aja dibilang biasa. Terus menurut kamu siapa yang paling ganteng? Kamu?” jawab Lina sambil meledek Valda. “Hahaha iya deh gimana kamu aja.”

Teng nong teng nong… bel masuk pun berbunyi. Itu tandanya Valda dan Lina harus segera memasuki kelasnya. Beberapa waktu kemudian bel pulang sekolah pun berbunyi. Untuk hari ini, Valda dan Lina tidak langsung pulang ke rumah mereka masing-masing. Tapi, Valda dan Lina ingin mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh Sari dan Hana. “Eh, tau gaa? Kecengan Lina sekelas loh sama kita, iya gak han?” kata Sari sambil menyenggolkan pundaknya ke Hana. “Iya loh. Dia juga baik di kelasnya.” Kata Hana. “HAH? APA? SERIUS? Kalian berdua sekelas sama kecengan aku?” jawab Lina shok berat. “Iya seriusan kok Lin.” Kata Sari sambil menganggukan kepalanya ke atas dan ke bawah. “Bagus tuh Lin, jadi kamu bisa nanya-nanya kesaharian cowok kecengan kamu ke Sari dan Hana.” Kata Valda menenangkan Lina yang saat itu masih shok berat. “Iya bener. Mau tau gak siapa namanyaaa?” kata Hana. “Tentu saja mau dong, udah langsung kasih tau aja sama sari.” Lanjut Hana. “Iya siapa namanya? ri” jawab Lina penasaran. “Mau tau aja, mau tau bangeet? Hahahaha” kata Sari “mau tau banget banget banget. Cepetin ih kasi tau namanya siapaaa.” Pinta Lina kesal. “Namanya Dimas.” Kata Sari. “EH, aku pulang duluan yaa, udah di tanyain sama mamah nih kapan pulangnya.” Kata Valda buru-buru. “oh oke hati-hati yaaa” Lina, Sari dan Hana serempak melambaikan tangannya ke Valda. Begitu juga Valda ke sahabat-sahabatnya itu.

Keesokan harinya, Valda dan Lina diajak Sari dan Hana untuk berkenalan denga Dimas di lapangan pada saat sepulang sekolah nanti. Beberapa jam kemudian, bel pulang sekolah pun berbunyi. Valda dan Hana pun langsung bergegas menuju Sari dan Hana di lapangan yang sudah bersama Dimas. “Eh, kalian sudah ada disini. Maaf kalian nungguin lama ya” kata Valda yang sedang ngos-ngosan akibat lari-lari dari kelasnya hingga lapangan. “Iya gak papa kok. Lagian kita juga baru keluar kelas hehehe.” Sahut Sari. “Eh iya, ini nih yang namanya Dimas.” Kata Hana sambil menunjuk ke arah Dimas. Valda dan Lina pun bersalaman dengan Dimas.

Seiring berjalannya waktu, kita berlima semakin lama semakin dekat. Akhirnya kita berlima pun bersahabatan. Kita seneng-seneng bareng, tiada hari tanpa ngumpul di lapangan. Pokoknya “always together whenever” hehehe.

UTS sudah semakin dekat, Valda, Lina, Sari, Hana dan Dimas mempersiapkan untuk UTS tersebut. Akhirnya UTS sedang dijalaninya sekarang. Pada saat UTS, masing-masing kelas dipecah menjadi 2. Yaitu perempuan dipisah dengan laki-laki.

Hari jum’at jam 12 waktu UTS, seharusnya, Valda masuknya jam 1an, tapi Valda berangkat jam 11an, jadi sampai di sekolahnya jam 12an. Sesampainya Valda di sekolah, Valda langsung bergegas kekelasnya. Di depan kelasnya Valda, ada beberapa gerombolan. Mereka pun serempak memanggilku “Valdaaa…” tidak salah lagi, dan tidak lain lagi itu suara sahabat-sahabatku. “Hah? Apaaa? Kalem yaa. Naro tas dulu.” Jawab Valda yang sedang memasuki kelasnya. Sesudahnya menaruh tas di kelas, Valda langsung menghampiri sahabat-sahabatnya yang berada di luar kelasnya.
Sesampainya, Valda duduk di hadapan sahabat-sahabatnya, untuk mengobrol bersama. setelah jum’atan usai, Dimas berjalan melewati kita. Serempak kita langsung menanggilnya “DIMAAAAS…”. “Apaaaa?” kata Dimas bingung. “Nanti ngumpul di depan kelas kamu. Mau ngomongin sesuatu.” Kata Hana. “Oh ya udah sok, aku mau ke kelas dulu.” Jawab Dimas. Iya, Dimas emang selalu dingin terhadap siapapun, termasuk ke sahabat-sahabatnya sendiri.

Sesampai di depan kelasnya Dimas, di situ kami berempat langsung duduk menunggu Dimas. Dimas sedang berada di dalam kelasnya, entah sedang ngapain. Beberapa menit kemudian, Dimas muncul dari kelasnya, dan langsung duduk di hadapan Valda. “Lama banget sih! Ngapain aja di kelas?” Tanya Valda yang sangat kesal karena menunggu Dimas terlalu lama. “Biarin ajaa, hak dong” jawabnya sambil mengeluarkan lidah dari mulutnya. “Ihhh, nyebelin tau gaa!!!” jawab Valda yang pada saat itu kesal berat terhadap Dimas. “Eh… sudah-sudah!! Kalian ini, kalau lagi ngumpul pasti selalu berantem saja.” Kata Hana yang memisahkan Valda dan Dimas yang sedang berantem. “Iya ih kalian teh kenapa ya berantem terus, udah deh baikan aja!” kata Lina yang menenangkan suasana saat itu. “Dasar daa si Valda sama si Dimas mah.” Kata Sari yang dari tadi sedang main HP. “Tuhkan itu semua gara-gara kamu tau gaa. Coba kalau kamu gak kelamaan di kelas? Pasti aku gak akan kesel kayak gini. Dasar nyebelin!” Kata Valda yang masih kesal dengan Dimas. “Kamu tuh yang nyebelin” kata Dimas yang tak mau kalah dari Valda. “Udah atuh kalian jangan gini terus. Kalau kalian gini terus, kapan aku mau ngomongnyaaa?” Kata Hana yang ikut kesal melihat Valda dan Dimas yang sedang berantem. “Tuh kan, si Hana marah.” Kata Dimas, sambil melihat ke Valda, seolah-olah Valda yang membuat Hana kesal. “Kamu tuh gara-garanya!” kata Valda yang lagi lagi tak mau kalah dari Dimas. “Udah dong!” kata Sari yang pada saat itu juga ikutan kesal mendengar mereka berantem. “Sok Hana lanjutin mau ngomong apa.” Kata Lina kepada Hana. “Ehh, mau gaa persahabatan ini kita lanjutin dengan serius?” kata Hana dengan muka yang sangat serius. “Mau sih, tapi kasian cowoknya kalau sendiri. Sedangkan ceweknya ada empat orang. Gimana kalau kita cari satu cowok lagi?” kata Valda yang pada saat itu kesalnya sudah hilang ditelan bumi. “Iya benar. Gimana kalau Dika aja?” Kata Dimas yang setuju dengan pendapat Valda. “Udah, segini aja. Kalau banyak-banyak pasti gak akan bener” Kata Hana yang menolak pendapat Valda. “Ehh, aku punya usul nih. Buat tanda persahabatan kita, gimana kalau kita buat apa gitu. Kayak gelang, topi, atau apapun itu. Gimanaaa?” Kata Sari yang ikut mengusulkan pendapatnya. “Iya benar. Gimana kalau kita buat gelang ajaaa? Soalnya gelang gampang dibuatnya.” Kata Lina.

Teng nong teng nong… bel masuk pun berbunyi. “Ya sudah, kita lanjutin saat sepulang nanti.” Kata Hana. Kita berempat pun langsung lari menuju kelasnya masing-masing.

Beberapa saat kemudian, bel pulang pun berbunyi teng nong teng nong… Valda dan Lina mencari-cari keberadaan Hana, Sari, dan Dimas. Beberapa saat kemudiaan, Valda melihat Hana, Sari, dan DImaas berkumpul di depan pendopo. Ternyata mereka ada di depan pendopo. Tidak menunggu apapun lagi, Valda dan Lina pun langsung berlari menuju sahabat-sahabatnya.
“Ga kurang lama da engga” kata Dimas sambil mengeluarkan lidahnya ke arah Valda. lagi lagi Dimas ngerusak mood Valda saat itu. “Biarin, kamu protes aja sih. Kenapa emangnya kalau aku lama? Masalah buat kamu?” jawab Valda yang pada saat itu benar-benar kesal terhadap Dimas. Sudah beberapa kali Valda berantem sama Dimas di hadapan sahabat-sahabatnya, dan pada akhirnya Valda ingin keluar dari persahabatan itu. Pada saat itu aku langsung pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya. Namun Valda dicegah sama Hana, tapi gak tau kenapa ada kekuatan yang sangat dahsyat di pundak Valda hingga akhirnya Valda mendorong Hana sampai jatuh. Valda pun malu dengan sahabat-sahabatnya akhirnya, Valda lari ke temannya untuk mengajak pulang bareng.

Sebenernya, Valda gak kuat sama kelakuan Dimas terhadapnya yang selalu membuat Valda kesal. Jika Valda sedang kesal, biasanya Valda suka marah-marah, atau bisa saja sampai nangis. Pada saat itu Valda nangis, karena Valda benar-benar kesal terhadap dirinya. Valda benar-benar malu terhadap sahabat-sahabatnya karena Valda tau apa yang dilakukan Valda terhadap sahabatnya itu sangat kekanak-kanakan. Tapi, Valda saat itu sedang emosi berat terhadap Dimas.

Sesampainya di rumah, Valda langsung meminta maaf kepada sahabat-sahabatnya itu karena sifat kekanak-kanakanya melalui sms. Akhirnya Valda pun dimaafkan oleh sahabat-sahabatnya. Kecuali Dimas, soalnya Valda gak ngesms ke Dimas. Karena Valda masih kesal kepada Dimas. Perahabatan ini masih berjalan selayaknya orang-orang bersahabatan. Tapi, seiringnya berjalan waktu, persahabatan ini tidak berjalan selayaknya orang-orang bersahabatan, kenapa? Karena kita selalu egois dengan emosi kita sendiri.

Beberapa bulan kemudian, persahabatan ini sama saja seperti waktu itu yaitu tidak berjalan selayaknya orang bershabatan. Valda masih saja tak mau minta maaf kepada Dimas. Tapi, Valda bingung sama perasaannya. Di saat Valda bareng-bareng sama Dimas, Valda seneeng banget. Tapi, di saat Valda nyuekin Dimas, Valda ngerasa kalau hidupnya itu sepi tanpa dia. Apakah Valda suka sama Dimas? Valda sendiri bingung apa yang dirasakan olehnya
Akhirnya, Valda gak kuat lagi untuk nyuekin Dimas. Valda pun langsung minta maaf kepada Dimas melalui sms. Valda yang nyuekkin, tapi kok Valda juga ya yang minta maaf? Huh ada ada aja ya Valda :D. Saat Valda minta maaf kepada Dimas… YES! Valda dimaafin sama Dimas. Tapi, Dimas inginnya Valda minta maaf yang kedua kalinya besok di hadapannya langsung.

Keesokan harinyaaa, yaitu hari jum’at. Dimana setiap hari jum’at SMP 34 mengadakan jumsih (jum’at bersih). Sudah kesekian kalinya, Valda bawa ember. Rajin-rajin amat ya Valda. Eh iya Valda kan janji kalau Valda harus minta maaf langsung ke Dimas di depan banyak orang. Ya udah deh dengan terpaksa Valda minta maaf ke Dimas di lapangan yang banyak orang. Kenapa banyak orang di lapang? Karena mereka sedang berbaris di lapang untuk menunggu giliran kelas mereka dipanggil untuk bersih-bersih di kelas yang telah ditentukan. Akhirnya Valda teriak-teriak minta maaf ke Dimas. Kurang malu apa coba ya Valda dikerjain Dimas suruh teriak-teriak minta maaf di depan orang banyak? Huh dasar Valda mau maunya dikerjain Dimas.

Di saat Valda minta maaf ke Dimas, ternyata Lina, Sari, dan Hana ngeliatin dan mendengar semua perkataan Valda. “Cieee Valdaa…” Serempak mereka bertiga menyoraki Valda. “Hah? Apaan sih? Dimas mah kan Lina?” kata Valda menutupi rasa malunya itu. “Apaan Val? Kenapa jadi ke aku?” kata Lina yang masih malu karena Dimas tau kalau Lina menyukainya. “Apaan sih Val? Gak jelas deh” kata Dimas yang sambil tertawa melihat muka Lina yang memerah. Perbincangan itu terus dilakukan dengan mereka, dan sampai mereka terpisah karena kelas mereka satu-persatu sudah dipanggil untuk melakukan jumsih.

Beberapa jam, hari, bulan, mereka sudah jarang untuk berkomunikasi, ataupun berkumpul bersama. Lina, yang tadinya suka dengan Dimas, jadi tidak suka lagi dengan Dimas, karena Dimas selalu memperbesar-besarkan permasalahan yang tidak harus di besar-besarkan. Oleh sebab itu, Lina tidak suka dengan sikapnya. Valda? Masih bingung tuh sama perasaannya. Kayaknya sih suka? Tapi, ntahlah. SKIP GA USAH DI BAHAS! Terus, Lina dan Valda, sedikit demi sedikit menjauh dengan Dimas, Sari dan Hana. Mereka mulai menjauh, karena mereka sibuk dengan tugas sekolahnya masing-masing. Karena mereka berbeda kelas, jadi mereka melakukan hari-harinya dengan teman sekelas mereka sendiri. Tetapi, Valda selalu SMSan dengan Dimas, walaupun dengan hubungan sahabat lainnya tidak terlalu baik.

Beberapa waktu yang cukup lama, yaitu 3 hari sebelum UKK, kita mendapatkan kartu peserta. Kecuali Dimas, Dimas tidak mendapatkan kartu peserta, karena Dimas tidak masuk sekolah. Waktu itu, Lina nge-SMS ke Dimas “Kasian deh yang gak masuk, jadi gak dapet kartu peserta” kata Lina yang memanas-manaskan Dimas. “Biarin aja atuh, aku ini yang gak dapet kartu peserta, kenapa kamu yang ribet?” Dimas pun membalasnya penuh dengan kekesalan. Disitulah Lina dan Dimas mulai berantem. Entah kenapa Valda yang tidak tahu apa-apa dicuekin juga dengan Dimas. Akhirnya Valda bertanya kepada Dimas melalu SMS. “Hey, maaf aku punya salah apa ya ke kamu? Sampai aku dicuekin?” kata Valda penuh penasaran. “AKU GAK SUKA LINA.” Kata Dimas yang kesal melihat SMS dari Valda. “Kamu yang gak suka Lina, kenapa aku juga yang dicuekin? Lina, Lina. Valda, Valda. jangan sama-samain aku sama Lina. Marah sama Lina, marah aja. Gak usah marah juga sama aku.” Jawab Valda yang sangat kesal karena Dimas terlalu membesar-besarkan masalah. “SOALNYA KAMU SAHABATNYA Lina.” Jawab Dimas yang masih kesal dengan Lina. Valda pun kaget saat membaca SMS tersebut. Ternyata Dimas sudah berubah. Tidak seperti dulu saat pertama kenal. Sari dan Hana pun sempet dicuekin dengan Dimas. Tapi, karena mereka sekelas, jadi mereka tidak terlalu lama di cuekin Dimas.

Bagaimana dengan Valda dan Lina?
Valda dan Lina, tetap dicuekin, hingga kita kenaikan kelas. Pada saat itulah persahabatan kita berakhir yang entah permasalahannya apa. Mungkin hanya kesalah pahaman di antara satu dengan lainnya, sampai kita tidak bisa bersatu lagi. Di kelas 8 Valda tidak sekelas dengan Lina, Sari, Hana, dan Dimas. Karena persahabatan ini sudah berakhir, di kelas 8 mereka seperti tidak mengenal satu sama lain. Akhirnya mereka melakukan hari-harinya dengan teman baru mereka. Sepi rasanya ketika sahabat yang menjadi sandaran jiwa, pergi meninggalkan kita. akan ada pula rasa kehilangan tatkala dia tidak mau mengenal dan berelasi lagi dengan kita. Bahkan terasa pahit saat sahabat yang dulu baik bagaikan malaikat, kini menjelma menjadi seorang yang tidak berperasaan. Tapi apakah masih bisa dinamakan sahabat? Walaupun mereka menganggap persahabatan ini sudah tidak akan pernah bersatu lagi, tapi ini semua Valda anggap pengalaman yang sangat seru, dan tak akan pernah Valda lupa sama ini semua. Makasih buat Lina, Sari, Hana, dan Dimas yang pernah jadi sahabat Valda dulu. Kata-kata “always together whenever”, akan Valda raih lagi. Nanti. Disaat Valda bertemu dengan sahabat sejatinya.

- Selesai -

Amanat yang disampaikan: Jangan pernah memperbesar-besarkan masalah, yang tidak harus di besar – besarkan. Dan selesaikan masalah itu dengan baik. Jangan menunda sampai akhirnya membuat masalah yang tidak harus dibesar-besarkan itu menjadi sebuah pertengkaran atau menjadi permusuhan.

Ayah

Dulu saya adalah anak sekolah yang tak pernah bisa diatur. Semua yang saya inginkan harus dituruti hari itu juga,. Lama berselang saya keluar dari sekolah menengah kejuruan. Disaat itu pulalah saya sedang giat giatnya mencari kerja kesana kemari. Namun tidak ada lowongan di daerah saya satu pun.

Suatu ketika ada saudara saya yang mengajak kerja untuk jadi OB di sebuah kantor jasa pengiriman barang. Lama berselang waktu pun berlalu begitu cepat dan di saat itu pulalah saya merasa ternyata mencari uang itu tak semudah membalikan telapak tangan. Hingga saya menyadari betapa kerasnya kedua orangtua saya untuk bisa memberikan saya yang terbaik hingga apapun yang saya minta dituruti walaupun uang tersebut uang hasil dari pinjaman dari seorang rentenir kosipa (rentenir).

Waktu begitu cepat berlalu hingga tak terasa sudah menjelang lebaran. Saya pun membelikan baju yang kedua orangtua saya hingga saya tak bisa membeli baju untuk diri sendiri, buat saya itu tak jadi masalah asalakan kedua orangtua saya bisa merasakan rejeki dari saya.

Lama berselang hari raya idul fitri sudah berlalu dan saya harus kembali ke tempat kerja saya sendiri. Singkat cerita 4 bulan berlalu dan sudah merasakan juga indahnya idul adha, setelah kembali pula ke tempat kerja saya, saya selalu merasa gelisah dan selalu ingin pulang namun itu tak mungkin karena jatah cuti saya semuanya sudah habis. Saat itu rabu malam kamis saya tidak bisa tidur hingga pagi, saat itu tanggal 24 0ktober 2013 saya mendapat kabar yang tak baik dari keluarga di rumah jam 11:00 saya ditelpon bibi saya bahwa ayah saya masuk rumah sakit, saat saat itu pula hati saya sudah merasa tak nyaman dan ingin segera pulang ke rumah. Lalu bibi saya menelepon lagi bahwa sebenarnnya ayah saya sudah meninggal perkataan waktu nelpon pertama itu hanyalah bohong saja karena bibi saya takut ketika dalam perjalan merasa tak tenang bila dibicarakan langsung bahwa ayah saya sudah meninggal.

Selang berlalu saya sudah sampai di rumah. Tapi sayangnya saya tidak bisa ikut memandikan ayah saya bahkan sampai di rumah ayah saya sudah dikuburkan. Di situ saya hanya melihat ibu saya yang sedang menangis karena belum bisa terima ayah saya meninggal di usia belum terlalu senja. Dan disitu pula lah saya merasa kepedihan yang teramat dalam bahkan saya tidak bisa menangis. Karena tangisan takkan bisa mengembalikan apa yang sudah hilang.

Saya adalah anak ke 4 dari empat bersaudara. Dan saat itu baru hanya ada saya dan kakak ke 2 saya yang lagi menangis histeris pula. Distulah baru saya sadari bahwa hidup itu takan pernah berarti selagi belum bisa membahagiakan orangtua. luka yang saya rasakan hingga saat ini belum bisa hilang oleh kenangan kenangan di masa lalu ketika masih bersama orangtua.. hingga sekarang sudah pada tahun yang baru 2014. Saya masih teringat pada ayah saya yang akan selalu menjadi inspirasi bahwa hidup adalah sebuah perjuangan hingga di akhir usia nanti.

Saya yang sudah kembali ke tempat kerja saya yaitu di daerah bandung. Saya selalu bertekad dalam hati untuk memberikan hal yang terbaik bagi orangtua saya dan keluarga yang masih ada. Karena bagaimanapun merekalah orang yang masih saya punya dan saya sayangi.

Pesan untuk kalian para pembaca! Hormatilah kedua orangtua kalian selagi masih ada karena bagai manapun merekalah harta paling berharga di dunia ini. Jangan sampai kalian mengalami hal yang sama, jenguklah orangtua kalian stidaknya sebulan sekali. Ingatlah pekerjaan itu tidak akan pernah ada habisnya. Tapi umur manusia ada masanya.
Hanya sekian dan terima kasih.

Nasihat Ayah

Kecewa dan marah. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku kecewa dengan keputusan yang telah ditetapkan. Dan aku marah karena keputusan itu bukanlah sesuatu yang aku inginkan.
Sekarang aku berada di ruang keluarga, duduk berhadapan dengan ayahku. Ayahku menatapku. Aku tahu arti tatapan itu. Itu adalah tatapan kekecewaan, kecewa melihat hasil ujianku. Kecewa melihat nilai ujian semesterku, nilai yang bisa membuat aku tidak lulus. Dan kecewa atas sikapku. Aku baru saja bercerita kepada ayah tentang penyebab rendahnya nilaiku.
Sebenarnya, nilai rendah bukanlah kemauanku. Aku mampu menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Tetapi aku sengaja mengkosongkan lembaran jawabanku. Aku punya alasan melakukannya. Aku melakukannya karena tidak terima dengan keputusan kampus yang mengumumkan bahwa jurusan yang aku ambil, Matematika Umum S1 akan dialihkan ke Matemaatika D3 untuk guru. Ketetapan itu dibuat dengan alasan bahwa di Riau mengalami kekurangan tenaga pengajar. Aku tentu saja menolak keputusan itu. Teman-temanku yang juga menolak bahkan telah mantap ingin pindah jurusan.
Aku sebenarnya tidak ingin menjadi guru, karena aku tidak memiliki minat dengan profesi tersebut. Dan aku ingin mengikuti langkah teman-temanku untuk pundah jurusan. Tapi aku merasa terlalu tanggung, karena pada saat itu aku hendak ujian semester.
Dan sebagai wujud rasa kesalku, aku tidak menjawab soal-soal ujian. Itu adalah bentuk protesku. Bahkan aku telah mendapatkan beberapa kali panggilan dari dosen sebelum nilai ujian keluar, karena heran melihat nilai ujianku menurun drastis. Padahan aku termasuk salah satu mahasiswa yang menonjol dan aktif. Tetapi aku tidak menghiraukan panggilan itu hingga nilai ujianku keluar.
Dan disinilah aku sekarang. Di depan ayahku. Menanti tanggapan apa yang akan diberikannya padaku. Apakah ayah akan marah? Atau bahkan setelah ini dia tidak akan ambil peduli?
Sesaat kemudian, aku mendengar helaan nafas ayah. Terdengan berat. Kemudian ayah berkata, “untuk saat ini, jangan dipikirkan jadi apa kita nanti, tapi pikirkan ilmunya. Karena dengan ilmu yang kita dapatlah, bisa membawa kita ke arah yang kita inginkan. Berbeda dengan yang awal, kali ini aku mendengar nada suara ayah yang tenang.
Dan untuk sesaat aku tertegun. Memikirkan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut ayah. Ayah benar. Selama ini aku belajar untuk mencari ilmu. Begitu bodohnya aku mensia-siakan ilmuku hanya karena keputusan kampus. Aku mengangkat wajahku yang sedari tadi tertunduk dan menatap ayah. “Aku mengerti ucapan ayah. Dan sekarang apa yang harus aku lakukan?”
“Mumpung masih ada waktu, pergilah temui dosenmu dan minta ujian perbaikan. Ayah yakin dosenmu akan menerimanya karena mereka tahu kamu bukanlah orang bodoh yang mau mensia-siakan nilaimu tanpa alasan yang jelas.
Aku mengiyakan perkataan ayah. Dan keesokan harinya, aku menemui dosenku untuk meminta ujian perbaikan. Dosenku juga sempat bertanya mengapa lembaran jawabanku kosong, lalu aku menceritakan alasanku. Dan ternyata tanggapan dosenku sama dengan ayahku. Agar aku terfokus pada ilmu yang aku dapat, bukan profesi apa yang akan aku jalani.
Aku mempunyai waktu seminggu untuk memperbaiki nilai-nilaiku. Dan seperti yang ayahku bilang, aku bukanlah orang bodoh. Aku mampu menyelesaikan semua soal ujian. Dan nilaiku yang keluar hampir semuanya A. Dan karena aku dikuasai kemarahan dan kekesalan, aku mengabaikan nilaiku dan lebih mengutamakan keinginanku.
Selanjutnya aku tetap pada jurusan yang aku ambil. Aku akan mencoba menjalaninya. Dan secara perlahan-lahan aku mulai menyukai Matematika D3 yang aku jalani. Itu karena sekarang aku mementingkan ilmu yang aku dapat, bukan lagi memikirkan profesi guru yang akan aku jalani setelah lulus dari kampus ini. Dan aku sadar dengan ilmu yang ada pada diriku, bisa membawaku kemanapun yang aku inginkan. Seperti yang telah dikatakan oleh ayahku.

Ini Cara Aku Mencintaimu

“Maura…!” panggil Bayu dari depan kelas, kepada Maura yang sedang berjalan. “ada apaan sih Bay?” sahut Maura. “nih buat lo.” Bayu memberikan sebungkus roti isi kepada Maura. “wiih.. dalam rangka apa nih?” tanya Maura heran. “kemaren lusa gue jadian sama Aurel” jelas Bayu. “haah!! Lo jadian sama Aurel?” Maura bingung karena kemarin dia melihat Aurel bermesraan dengan cowok lain. “iya, si Aurel kelas sebelah itu. Emang kenapa sih? Kok lo kaya heran gitu?” tanya Bayu karena melihat ekspresi Maura yang bingung. “eh enggak kok nggak apa-apa. Selamat ya Bay.”
Hari demi hari berjalan, Maura masih terus menyelidiki tentang Aurel. Dan ternyata benar Aurel punya selingkuhan. Maura merasa kasihan kepada sahabatnya Bayu, semenjak Bayu dan Aurel pacaran Bayu seperti dijadikan budak oleh Aurel. Mengerjakan PR Aurel, membawakan tas Aurel, membelikan makanan setiap hari, dan masih banyak lagi. Pernah suatu hari Maura mengatakan yang sebenarnya kepada Bayu, tapi Bayu tak percaya dengan apa yang dikatakan Maura.
Malam ini Bayu akan datang ke rumah Aurel tanpa sepengetahuan Aurel. Dan ternyata Aurel sedang bermesraan dengan selingkuhannya, Bayu yang melihat kejadian itu langsung menegur Aurel dan selingkuhannya. “Aurel!!” ucap Bayu kaget. “kamu siapa yah? Kayanya kita gak kenal?” dan parahnya lagi Aurel pura-pura tidak mengenal Bayu. “oh jadi gitu ya, gak kenal gue ya?, oke fine Aurel kita putus!!” bentak Bayu dengan nada marah. Bayu langsung pergi dan meninggalkan Aurel begitu saja.
Bayu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan hampir saja menabrak Maura. “astagfirullah, gue hampir nabrak orang” Bayu segera keluar dari mobilnya dan berkata “maaf mba, mba gak papa? Loh Maura?” Bayu tidak tahu kalau yang hampir ditabraknya adalah sahabatnya Maura. “loh Bayu, tumben lo bawa mobil kenceng banget.” ucap Maura “masuk mobil gue yuk, gue anterin lo ke rumah” ucap Bayu “ayo” ucap Maura.
Setelah mereka masuk mobil Bayu langsung memeluk Maura dan menangis. “Bayu? Lo kenapa Bay?” ucap Maura heran. “Aurel ra, Aurel. Ternyata bener apa yng dibilang lo kalo Aurel tuh selingkuh. Maafin gue Ra selama ini gue gak percaya sama lo, maaf Ra” jelas Bayu masih dalam pelukan Maura. “iya Bay gue maafin, lo gak salah kok.” Maura mencoba menenangkan Bayu. Sambil berpelukan Maura berkata dalam hati “Bay, gue akan sealu menjaga hati lo Bay, gue akan menghapus air mata lo, dan akan mengukir senyum lo Bay. Gue rela sakit hati, asalkan lo bahagia. Ini cara gue mencintai lo.”
Selama ini Bayu tidak mengetahui kalau Maura mempunyai perasaan cinta yang dalam, Maura tidak mau mengungkapkan perasaannya karena Maura tau kalau Bayu tidak punya perasaan yang sama seperti yang ia rasakan, Maura tau kalau Bayu hanya menganggap Maura hanya sebagai sahabat, tidak lebih dari itu

Ku Kira itu Cinta

Aku memandang ponsel BBku dengan geram. Kini, ponsel bukanlah sarana penyemangat, hiburan ataupun komunikasi bagiku khususnya. BB ini menjadi suram bagiku. Dentingan dan LED BBku pun tak pernah ku hiraukan. Percuma saja! Jika aku memandang BBku, BBM darimu, Telfon darimu, SMS darimu ataupun Skype darimu tidak lagi kan kudapatkan. Aku merasa benar-benar kacau. Lewat BBM, kau memaki, mencaci, membentak dan menyalahkanku. Sementara aku sendiri tidak tau dosa apa yang telah ku perbuat padamu hingga berakibat seperti ini.
Kau mengawali segalanya. Kau memulai perkenalan kita. Perkenalan yang aku lupa kapan itu terjadi. Dan entah bagaimana bisa terjadi. Aku sudah melupakannya. Yang ku tau dan ku ingat, kau begitu menyenangkan saat itu. Kita tertawa, bercanda dan bercerita apapun yang menarik. Penting ataupun tidak penting. Kau selalu memiliki topik untuk dibicarakan lewat pesan BBM. Kita pun saling bertukar foto. Foto masa lalu kita yang konyol dan lucu.
Foto itu adalah foto kita saat berumur 5 tahun. Foto kita yang unyu dan imut itu sukses membuat kita tertawa lepas di tempat masing-masing. Dan tentunya di depan ponsel BB masing-masing. Kemudian kau mengirim gambar macan dan menyamakanku dengan gambar menyeramkan itu. Aku tak mau kalah. Aku membalas dengan mengirimimu gambar pocong. Kau tidak terima dan marah-marah tak jelas padaku.
Semakin lama aku merasakan ada gejolak dalam relung hatiku, ikut menari riang gembira, bergoyang-goyang, serta terbang melayang. Aku bahagia. Perhatian yang kau berikan padaku kurasa tulus. Kau bercerita tentang cinta. Segala pendapatmu tentang cinta kau ceritakan padaku. Dengan caramu. Caramu yang sangat menyentuh hatiku. Caramu yang membuatku semakin terpesona oleh sosokmu.
Pada suatu saat kita saling menceritakan pengalaman cinta kita. Cinta pertamamu begitu indah. Kau menceritakan dengan gaya laksana sang pujangga cinta. Kau juga bercerita tentang mantan-mantan pacarmu. Bercerita tentang kau yang pernah menjadi ‘Kekasih Gelap’. Di dalam hati aku merutuki kebodohanmu yang dengan santai menjadi Selingkuhan. Betapa cerobohnya dirimu. Bagaimana jika pacar asli dari pacarmu itu tau? Entahlah. Itu bukan urusanku. Jika kamu milikku, aku berjanji takkan pernah menduakanmu.
Di setiap malam harinya, kita selalu bersapa ria lewat skype, twitter, facebook, line dan Sosial Media lainnya. Melalui skype, saat itulah wajahmu dan wajahku bertemu secara dekat dengan perantara webcam. Matamu memancarkan elok nirmala kesejukan fajar dalam hatiku. Suara lembutmu yang mengucapkan “Good Night” berhasil menarik bibir ini hingga mengukir sebuah senyuman manis. Walau hanya 2 kata, tapi aku tak bisa untuk tidak mengartikan itu wujud perhatianmu padaku. Aku terlelap dalam tidurku bersama mimpiku. Kulihat bayanganmu tersenyum manis di mimpiku. Ya Tuhan! Kurasa aku mulai menyukainya dan menyayanginya.
Dan lagi terjadi, di lain hari. Kau adalah seorang pemain bola. Aku tahu itu, karena kita memang satu sekolah. Dan aku mencari berbagai informasi tentangmu dari teman-teman dekatmu. Aku juga sangat menyukai sepak bola. Kita membicarakan tentang tim favorit kita. Pemain idola kita. Kau menyukai Arsenal, sedangkan aku menyukai Barcelona. Di hari sabtu dan minggu adalah hari latihanmu. Kau selalu mengabariku. Apa yang sedang kau lakukan, dimana keberadaanmu, bersama siapa dirimu saat itu. Kau mengabariku. Seusai ataupun sebelum latihan kau mengirimiku BBM. Dan yang semakin membuatku kaget adalah, kau memanggilku ‘SAYANG’.
Aku kira aku memang orang bodoh. Karena hubungan kita berangsur-angsur tanpa ikatan yang jelas. Di malam minggu setelah kemenangan tim sepak bolamu yang mendapat juara 1, kau mengajakku jalan, dinner dan ini adalah kali pertamaku ngedate denganmu. Ah apa ini bisa dibilang kencan? Yaaa kurasa memang begitu. Kau menghampiri langsung di rumahku, dengan motor sportmu tentunya. Dan tak ketinggalan kau meminta izin kepada ayahku tersayang untuk mengajakku keluar. Betapa bahagianya diriku. Bagaimana bisa aku hanya menganggap ini semua wajar sebagai teman. Semua kaum perempuan pun akan merasa benar-benar dicintai saat seseorang yang disayangi melakukan hal itu.
Aku membonceng di belakang mu dengan perasaan campur aduk. Kau melajukan motormu itu sangat kencang. Ah laki-laki memang modus. Itu taktik agar perempuan takut jatuh lalu akan merangkul pinggangnya dengan erat. Mau tak mau aku merangkul pinggangmu. Semakin kencang lajumu, semakin erat tanganku melingkari pinggangmu. Denyut jantungku begitu kencang, darah terpompa dari bilik kiri ke seluruh tubuh, arteri di tanganku mengalir deras, aku merasa seperti lari maraton. Aku berharap kau bisa merasakannya.
2 hari setelah malam itu, kau menghilang tak berjejak. Pesan BBM darimu kutunggu-tunggu juga tak kunjung datang. Aku berfikir, mungkinkah kenangan malam itu hanya mimpi? Tidak mungkin! Aku merasakan itu semua benar-benar nyata! Aku mencubit lenganku waktu itu, dan rasanya sakit. Ah atau… mungkinkah malam itu adalah perayaan perpisahan kita? Oh Ya Tuhan… Kumohon jangaaan!
Hingga suatu ketika kabar burung terdengar oleh telingaku. Kau memiliki kekasih baru. Yang tak lain adalah temanku. Aku mencoba meminta penjelasan padamu, dan kau mengakuinya. Aku juga meminta penjelasan padanya, tapi dia tetap mengelak tak mau mengakuinya. Aku mendesaknya dan akhirnya ia mengakui itu. Bahwa dia -yang merupakan temanku- adalah kekasihmu. Aku memintanya menceritakan bagaimana dia bisa jadian denganmu. Aku tak bisa mengontrol emosiku saat itu. Aku luapkan padanya. Sementara kau dengan santai justru membelanya dan terus-terusan menyudutkanku, menyalahkanku, membentakku, bahkan mencaci maki diriku.
Air mataku terus berlinang. Hati ini terasa sakit dan perih. Bagai tertusuk belati. Aku ingin sekali berteriak saat itu, tapi aku menyadari keberadaanku yang kini di dalam kamar. Aku khawatir orang-orang akan menyangka aku ini GILA. Ku urungkan niatku berteriak dan terus menangis tersendu. BB yang kini kupegang terasa menggetarkan. Lewat BBM, Chat, DM dan pesan singkat kalian berterus terang saja meminta maaf kepadaku atas dosa yang kalian perbuat. Dentingan BBku berbunyi tanpa henti, Flipnya pun berkedip-kedip merah, biru, hijau. Aku tak kuasa! Tanpa pikir panjang, kumatikan saja ponsel BBku ini. BB keramat yang menyisakan luka mendalam bagiku.

Aku dan Kamu

“Maura…!” panggil Bayu dari depan kelas, kepada Maura yang sedang berjalan. “ada apaan sih Bay?” sahut Maura. “nih buat lo.” Bayu memberikan sebungkus roti isi kepada Maura. “wiih.. dalam rangka apa nih?” tanya Maura heran. “kemaren lusa gue jadian sama Aurel” jelas Bayu. “haah!! Lo jadian sama Aurel?” Maura bingung karena kemarin dia melihat Aurel bermesraan dengan cowok lain. “iya, si Aurel kelas sebelah itu. Emang kenapa sih? Kok lo kaya heran gitu?” tanya Bayu karena melihat ekspresi Maura yang bingung. “eh enggak kok nggak apa-apa. Selamat ya Bay.”
Hari demi hari berjalan, Maura masih terus menyelidiki tentang Aurel. Dan ternyata benar Aurel punya selingkuhan. Maura merasa kasihan kepada sahabatnya Bayu, semenjak Bayu dan Aurel pacaran Bayu seperti dijadikan budak oleh Aurel. Mengerjakan PR Aurel, membawakan tas Aurel, membelikan makanan setiap hari, dan masih banyak lagi. Pernah suatu hari Maura mengatakan yang sebenarnya kepada Bayu, tapi Bayu tak percaya dengan apa yang dikatakan Maura.
Malam ini Bayu akan datang ke rumah Aurel tanpa sepengetahuan Aurel. Dan ternyata Aurel sedang bermesraan dengan selingkuhannya, Bayu yang melihat kejadian itu langsung menegur Aurel dan selingkuhannya. “Aurel!!” ucap Bayu kaget. “kamu siapa yah? Kayanya kita gak kenal?” dan parahnya lagi Aurel pura-pura tidak mengenal Bayu. “oh jadi gitu ya, gak kenal gue ya?, oke fine Aurel kita putus!!” bentak Bayu dengan nada marah. Bayu langsung pergi dan meninggalkan Aurel begitu saja.
Bayu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan hampir saja menabrak Maura. “astagfirullah, gue hampir nabrak orang” Bayu segera keluar dari mobilnya dan berkata “maaf mba, mba gak papa? Loh Maura?” Bayu tidak tahu kalau yang hampir ditabraknya adalah sahabatnya Maura. “loh Bayu, tumben lo bawa mobil kenceng banget.” ucap Maura “masuk mobil gue yuk, gue anterin lo ke rumah” ucap Bayu “ayo” ucap Maura.
Setelah mereka masuk mobil Bayu langsung memeluk Maura dan menangis. “Bayu? Lo kenapa Bay?” ucap Maura heran. “Aurel ra, Aurel. Ternyata bener apa yng dibilang lo kalo Aurel tuh selingkuh. Maafin gue Ra selama ini gue gak percaya sama lo, maaf Ra” jelas Bayu masih dalam pelukan Maura. “iya Bay gue maafin, lo gak salah kok.” Maura mencoba menenangkan Bayu. Sambil berpelukan Maura berkata dalam hati “Bay, gue akan sealu menjaga hati lo Bay, gue akan menghapus air mata lo, dan akan mengukir senyum lo Bay. Gue rela sakit hati, asalkan lo bahagia. Ini cara gue mencintai lo.”
Selama ini Bayu tidak mengetahui kalau Maura mempunyai perasaan cinta yang dalam, Maura tidak mau mengungkapkan perasaannya karena Maura tau kalau Bayu tidak punya perasaan yang sama seperti yang ia rasakan, Maura tau kalau Bayu hanya menganggap Maura hanya sebagai sahabat, tidak lebih dari itu

Bidadari

Seandainya bunga dapat menjadi wakil hatiku saat ini, pastilah dia layu. Seandainya bulan yang berbicara, pasti saat ini dia sedang tertutup bumi dari matahari. Dan seandainya bintang yang bercerita, mungkin saat ini adalah siang, yang menghalanginya untuk bersinar.
Aku Embun. Ya, teman dan orang orang sering memanggilku seperti itu. Aku suka nama itu, sejuk. Embun tak pernah memilih daun untuk dihinggapi. Kata bijak itu, ah lupakan! Aku adalah gadis usia 20 tahun yang sampai saat ini masih mencari sesuatu. Yah, Sesuatu yang menjadi teka teki dalam setiap lamunan malam penghantar tidurku. APAKAH BIDADARI ITU NYATA? Hmm… kedengarannya aneh untuk gadis seusiaku. Biarlah. Aku tak pedulikan hal itu.
“Abi… Apakah bidadari itu nyata?”
“umi’, apakah benar di dunia ini ada bidadari?”
Mereka hanya tersenyum memandangiku. Entahlah, apa yang mereka ingin katakan. Aku tak tau.
Hariku semakin sesak, dijejali pertanyaan yang sama dan semakin menggunung. Namun satu clue teka tekiku pun belum juga terjawab. Aku berlari hingga kaki kecilku tak sanggup lagi melangkah dan mengantarkanku di bawah teduhnya gubuk di tengah tengah hamparan padi yang siang itu ikut menyapaku. Hanya termenung, dan mataku jauh melihat ke atas bukit hijau nan elok.
“neng, ngapain siang-siang begini di tengah sawah sendirian?” Tanya bapak tani yang lewat. “main main saja kok pak…” Jawabku dengan mempersembahkan sedikit senyumku untuknya. “bapak duluan ya neng.” “iya pak..” kembali aku tersenyum.
‘Tuhan… APAKAH BIDADARI ITU NYATA?’ aku masih termenung.
“teman teman… lihat lihat. Ada pelangi…”
“pasti ada bidadari yang turun dari langit”
“eh, bidadari itu seperti apa sih?”
“cantik”. “aku pingin tau dong…”
BIDADARI? Aku tersentak mendengar teriakan anak anak kecil yang berlarian senang menyambut pelangi yang siang ini sengaja keluar mengiringi kepergian sang hujan.
‘mereka bilang ADA BIDADARI TURUN DARI LANGIT?’ batinku terus berdebat dengan jawaban jawaban itu. ‘Ah masa..?’ aku masih memikirkan itu. Ya, sepanjang perjalanan pulangku, masih terngiang ngiang tentang cerita bocah bocah itu.
“embun, dari mana? Kok sendirian?” Tanya wati di persimpangan.
Aku masih ngeloyor, dan… aku benar benar tak mendengar sapaannya. “embun?!” “astaghfirllah… Wati, kenapa kamu mencubitku seperti itu?” tanyaku. “embun… saya tadi Tanya, kamu dari mana kok sendirian?” wati agak memuncak emosinya karena kelemotanku. “anu… dari sawah wat… mau pulang nih sudah sore, nanti dicariin umi’ lagi”, “ya sudah mbun, hati hati ya…”.
Ku tengok jam kecil yang selalu ku ajak kemanapun langkah kaki mengantarku. Sontak aku kaget. Jam 16.00. Ya Allah… Aku belum beres beres rumah, belum ashar, belum bikin kopi buat ayah. Aku semakin tak karuan paniknya. “Assalamu’alaikum umi’, maaf saya kesorean” sambil ku cium tangan umi’ku. “waalaikumussalam embun, sudah umi’ sapu kok rumahnya” jawab umi’ku seketika. “umi’, besok besok umi’ tidak usah nyapu lagi ya, biar embun saja” aku gelisah dan merasa bersalah. “ndak apa apa nak,.. sekali sekali umi’ yang mengerjakan tugasmu..”
“umi’… Maafkan embun ya” sambil memeluk umi’.
“ya sudah, kamu cepat mandi, shalat, habis itu abimu bikinin kopi.”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan beranjak ke kamar mandi. Mandi, shalat, sudah ku dapatkan.
Sekarang saatnya aku membuat wedang kopi untuk abi. “terima kasih nak..” lagi lagi aku hanya tersenyum di depan abi umi’ku.
Kembali ku membuka lamunanku, ya, pasti. BIDADARI.
ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR suara azan memecahkan heningnya suaraku di tengah tengah keramaian desa ku yang asri. Aku bergegas ke masjid depan rumahku. Sepoi sepoi angin senja mengantarkanku melangkah menuju masjid. Aku penasaran dengan suara yang membuatku tergetar. Merdu, indah, dan membuat siapapun merinding dibuatnya. Biarlah, mungkin itu suara mahasiswa KKN di sini. Ya, sudah 3 hari ini mereka datang ke desaku. “suara siapa sih?”. “eh itu namanya siapa?”. “oh ya? Aku pingin kenalan dong”. “duuh, merdu sekali”. Bisik bisik kecil dari teman teman seusiaku.
“embun Embun, kesini deh. Kamu tau ndak namanya siapa?” susi bertanya padaku yang baru datang dan, sama sekali tak tau apa apa.
“endak sus, memangnya kenapa?” jawabku agak cuek karena aku tak ingin ikut ikut teman teman ku yang jail. “eh aku ke depan dulu ya?” aku sengaja menghindar dari mereka.
“ASsalamu’alaikumwarohmatullahiwabarokatuh”. Pak kiyai memberi sambutan setelah selesai shalat. “saudara sekalian, setelah ini saya minta untuk para remaja masjid agar mengikuti seminar dari para mahasiswa”. Akhi, ukhti, di desaku ada REMAS (Remaja Masjid) yang baru saja kami dirikan.
Sambutan berlangsung dengan khidmad. Acara seminar dimulai. Suasana tenang diiringi paduan suara dari jangkrik dan katak yang teat teot sana sini. Acara di mulai. “Assalamu’alaikum warohmatullah” seorang pemuda berparas tampan dan tetap sederhana memberi salam pada kami semua. “waalaikumsalam wr. Wb”. “sebelumnya saya perkenalkan diri, nama saya lintang, usia saya 23 tahun”. ‘oooh… Namanya lintang. Dia kan yang tadi adzan..’. Telingaku menangkap bisikan bisikan teman teman perempuaanku yang dari tadi penasaran ingin tau namanya. Hummm… Tampan, tapi apakah dia sholeh? Tanyaku dalam hati.
Semua materi telah di sampaikan oleh lintang. Cerdas. 1 kesimpulanku tentang nya. Acara usai. Aku bersiap siap mendirikan shalat isya’ berjamaah. Semua telah selesai, dan aku berkemas untuk pulang. “emmm assalamu’alaikum?” deg! Aku kaget dengan suara yang baru saja aku dengar dan, tidak asing itu. “waalaikum salam.. mas lintang”. Namun aku tak berani mendongakkan wajahku, aku berpaling muka. “maaf dek, abinya ada di rumah ndak?”, “ada mas” singkat ku menjawab karena gemetaran. Aku memang jarang sekali ngomong dengan laki laki yang bukan mahromku.
Mas lintang menuntun kakinya untuk sampai di rumahku. Memang ada perlu dengan abiku. Aku hanya memendam diri di kamar. “embun… tolong nak, bikinin mas lintang minuman.” “iya bii..”. aku ke dapur dan membuat minuman untuk mas lintang dan abiku.
Minuman selesai ku buat. “ini bi”. “terimakasih ya nak, sini kamu sama abi..” abi membimbingku untuk duduk di sebelahnya. “ini, mas lintang ingin mengkhitbahmu”. Deggg!!! Srrrttt!!! Allah… Aku terperanjat mencari tau, aku sedang di mana. Aku di rumahku! Aku di duniaku! Aku aku… Aku.
Aku tertunduk seakan tak percaya dengan apa yang barusan abi katakan. “nak… Bagaimana?”
“abi.. mbun minta waktu ya? Besok embun kasih jawabannya”. Aku memberanikan diri angkat bicara dan memandang wajah abiku. “ndak apa apa embun, akan mas tunggu..” mas lintang mencoba mengertiku. Aku istikhoroh untuk mencari jawabannya.
Sejuknya angina surga menerobos celah celah dinding kamarku. Menyapu seluruh pengapnya ruang sempit ini. ‘sudah subuh’ gumamku. Aku terbangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah dan mengambil air wudlu. Shalat subuh selesai ku dirikan. Aku menyapu rumah, mencuci piring, memasak, mencuci, dan… Semua beres. “umi’… Mandinya masih lama?”. “sebentar lagi nak..” . aku menunggu umi’ selesai dengan menyiapkan sarapan untuk abi dan umi’ku. ‘saatnya mandi’. Semua telah rapi, bersih dan harum. “embun… sebentar lagi mas lintang mau kesini, kamu siap siap ya…”. Ya Allah… Bagaimana ini. Aku panik. Seluruh keberanian ku kumpulkan untuk menjawab mas lintang. “assalamu’alaikum?” mas lintang. “waalaikumsalam…” kami sekeluarga menjawab kompak dari dalam rumah. “silakan duduk nak, “ kali ini mas lintang tidak sendirian, dia ditemani oleh dua temannya. Aku semakin dag dig dug.
Obrolan pembuka pun lancar disuguhkan oleh abi dan umi’ku. Aku duduk di sebelah umi’. “bagaimana embun? Kamu siap memberi jawabannya?” Tanya umi’ku. Aku diam seribu kata. Aku tertunduk, aku malu, aku bimbang. Namun Allah memberitau aku, bahwa dia jodohku. “bismillah, embun mau umi’, abi..”.
Terlihat sorot mata mas lintang memancarkan cinta karena Allah.
Hari pernikahanku secepat mungkin dilangsungkan. Dan hari ini adalah tepat dimana aku diserahkan pada mas lintang. “BIDADARI ITU NYATA DI DUNIA NAK… yaitu kamu, yang saat ini menjadi bidadarinya LINTANG”. Kata umi’ dan abi ku.
Selesai…

Arti Sebuah Waktu

Alkisah ada seorang wanita yang hidup di sebuah desa terpencil, dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi wajahnya. Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota kepada kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak oleh kedua orang tuanya. Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya dia pun menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya datang menghampiri dia. Dan tiba-tiba ibunya bilang “Kamu boleh pergi ke kota nak”.

Mendengar perkataan ibunya dia pun tersenyum. Dan pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke kota. Di tengah perjalanan yang lama dan melelahkan dia istirahat di sebuah rumah, dan dia pun membayangkan, ” andai ku bisa membangun rumah mewah dan dapat mengoprasi wajah ku yang biasa menjadi luar biasa ini.” Tiba-tiba di tengah-tengah hayalannya datang seorang nenek tua menghampirinya, dan bertanya “kenapa nak kamu tersenyum sendiri?”
“Saya sedang membayangkan andaikan saja ku bisa sukses di kota dan dapat mengoprasi wajahku ini”, kata dia. Dan nenek itu mengeluarkan jam kecil dari kantongnya, kemudian nenek itu berkata “Kamu tinggal putar jam itu sesuai dengan putaran jarum jam, bila kamu ingin segera meraih cita-citamu”.
“Baik nek”, kata wanita tadi.